Dilema Studi Ekskursi 2025, tak kunjung Berkepastian
Persiapan keberangkatan Studi Ekskursi Prodi Humas angkatan 2021. (Sumber: Latri Rastha Dhanastri) |
Yogyakarta, Sikap- Isu peniadaan mata kuliah Studi Ekskursi (SE) tahun 2025 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) tengah menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa. Hingga pertengahan Maret belum ada kepastian, meskipun mahasiswa diminta untuk tetap mengambil mata kuliah tersebut saat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di awal semester 6 pada Januari lalu. Hingga kini, belum ada pemberitahuan lanjutan dari pihak birokrasi terkait pelaksanaan SE yang dimana tahun sebelumnya dilaksanakan pada Januari untuk Ilmu Komunikasi (Ilkom), Maret Administrasi Bisnis (AB), dan Mei Hubungan Masyarakat (Humas).
Tahun lalu, pelaksanaannya terdapat beberapa opsi tempat yang ditawarkan oleh pihak panitia, yaitu meliputi Bali dan Jakarta (Humas), Jakarta dan Thailand (Ilkom), dan Jakarta, Singapura, Malaysia (AB). Namun, SE 2025 terancam mengalami perubahan skema. Keputusan ini menuai beragam respons dari mahasiswa, mulai dari protes hingga usulan alternatif pengganti. Pasalnya SE merupakan mata kuliah berbasis pengalaman kerja praktis. Saat mendapat kabar ditiadakan, sontak membuat mayoritas mahasiswa angkatan 2022 mempertanyakan kepastian SE.
Fakultas dan jurusan juga sudah melakukan beberapa usaha agar kegiatan tersebut tetap bisa dilaksanakan tahun ini. Melihat isu yang beredar, kemungkinan SE akan ditiadakan atau mengalami perubahan skema. Mahasiswa yang tadinya berkesempatan untuk mengunjungi perusahaan luar kota bahkan luar negeri, kemungkinan hanya akan berkunjung ke area dalam kota. Mereka berharap segera ada kejelasan mengenai ada atau tidaknya SE.
Ketidakpastian SE
Kegiatan SE hingga saat ini belum terlaksana dan masuk ke tahap ketidakjelasan. Mahasiswa yang merasa dirugikan pun mendesak fakultas untuk memberi penjelasan. Fakultas telah melayangkan surat ke universitas, tetapi belum mendapat balasan. Akibatnya, mahasiswa mulai mendatangi jurusan untuk meminta kepastian. Namun, pihak jurusan juga belum bisa memberi jawaban jelas. “Mahasiswa sudah ke sini (jurusan), himpunan juga sudah. Fakultas juga sudah menanyakan ke universitas. Mungkin situasinya berbeda dengan tahun-tahun lalu, sampai sekarang belum ada kepastian terkait dana SE, kita tunggu,” ujar Humam Santoso, Kepala Jurusan (Kajur) AB.
Senada dengan Kajur AB, Sika Nur Indah, Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilkom mengatakan kegiatan SE akan tetap dilaksanakan karena masuk ke kurikulum, tetapi ada kemungkinan format SE berbeda dari tahun sebelumnya. “Tetap ada karena SE masuk ke kurikulum dan ada di struktur kurikulum bobotnya 1 (satu) sks. SE pasti diselenggarakan, tapi untuk wujudnya belum didiskusikan lagi karena belum jelas anggarannya,” ucapnya.
Mahasiswa sampai saat ini masih belum mendapat jawaban pasti mengenai SE. Mereka mulai mendesak himpunan untuk membantu memberikan kejelasan tentang kegiatan ini. “Anak-anak (mahasiswa) banyak yang nuntut ke himpunan untuk kejelasan sementara, himpunan nggak tau harus jawab apa,”ujar Yosua Crismikhel, Ketua Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Kahim Himakom).
Selaras dengan Kahim Himakom, Naufal Taufiqul, selaku Kahim Mahasiswa Hubungan Masyarakat (HM Humas) mengatakan saat ini informasi masih sama dengan jurusan lain mengenai kejelasan SE. “Dari fakultas belum tahu SE turun atau nggak. Terakhir Dekanat mengirim surat ke rektorat, tapi belum ada tulisan secara resmi terkait SE, dari humas informasi sama seperti 3 jurusan lain, masih simpang siur, sehingga dari kami masih memerlukan adanya benang merah,”katanya.
Usaha yang sama telah dilakukan oleh prodi AB dengan membentuk kepanitiaan untuk mengurus SE tahun ini. Sebagai penanggung jawab SE AB, Ali Rahman mengatakan telah mengusahakan untuk keberlangsungan SE dan sudah berdiskusi dengan Wakil Dekan (Wadek) bagian keuangan, Indro Herry Mulyanto. Akan tetapi, tetap belum mendapat kepastian soal kegiatan ini. “2 kali ke wadek bagian keuangan, pak Indro. Dari diskusi wadek keuangan adalah intinya buat SE belum bisa dikatakan nggak ada dan belum dipastikan ada,”jelas Rahman. Dalam wawancara bersama dengan Rahman, Khoirunnisa Azzahra juga menambahkan mengenai respon mahasiswa AB terhadap ketidakjelasan SE. “Mereka ingin SE ada, karena sudah terlanjur input ke KRS, kecuali misal dari sebelum pergantian semester sudah ada kabar bahwa SE memang ditiadakan, mungkin dari temen-temen AB yang lain gak akan kecewa,”tanggapnya.
Anggaran jadi Kendala Utama
SE dibiayai menggunakan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun, sudah berjalan setengah semester belum ada informasi selanjutnya. Menurut keterangan Humam, pelaksanaan SE semuanya tergantung pada anggaran, jadi hingga saat ini jurusan belum bisa memberikan jawaban pasti mengenai kegiatan ini. “Jurusan belum bisa memberi jawaban apa-apa. Walaupun pelaksanaan dilakukan oleh jurusan, tapi kalau masalah anggaran keputusan ada di fakultas atau univ,”jelasnya.
Selaras dengan Humam, Kajur Ilkom, Ida Wiendarjati mengatakan bahwa di jurusan belum ada kepastian karena keterbatasan anggaran. Ia menjelaskan sudah mencoba mengumpulkan dana untuk dialokasikan ke SE. “Kami sudah mengumpulkan dana dari anggaran yang untuk mahasiswa kita alihkan ke SE, tetapi itu pun tidak terkumpul sampai 50 juta,”ucapnya. Meskipun anggaran menjadi masalah terbesar dari ketidakpastian kegiatan ini, Humam dan Ida optimis jika SE tetap bisa dilaksanakan.
Usaha lain yang dilakukan yakni mengadakan rapat oleh fakultas bersama jurusan terutama AB dan Ilkom pada Selasa, 1 Maret 2025 dimana salah satunya membahas mengenai SE. Dalam rapat, Humam mengakui bahwa fakultas telah mengirim surat kepada rektorat. “Di rapat tersebut fakultas hanya memberi informasi bahwa sudah mengirim surat terkait pelaksanaan SE kepada universitas tapi belum ada respon secara resmi, jadi jurusan masih menunggu perkembangannya,”tutur Humam.
Berita yang simpang siur ini membuat keresahan bagi mahasiswa angkatan 2022, maka dari itu masing-masing himpunan berusaha untuk mencari kejelasan tentang SE dengan pihak fakultas. Naufal menjelaskan bahwa informasi terakhir yang ia dapat yakni pihak dekanat memang sudah mengirim surat ke rektorat. Yosua juga mengakui bahwa di rapat pra-raker dengan dekanat, pihak-pihak tersebut belum mengonfirmasi pelaksanaan SE. Ali Rahman dan Khairunnisa Azahra sempat bertemu dengan wakil dekan bidang umum dan keuangan Indro Herry Mulyanto. Dalam kesempatan itu, Indro mengatakan jika kegiatan ini belum bisa dikatakan ada atau tidak.
Harapan Mahasiswa
Potret kegiatan Studi Ekskursi Prodi Humas angkatan 2021 di Kantor KPK. (Sumber: Zidan Pamungkas) |
Huru hara kegiatan SE menimbulkan berbagai respons dari mahasiswa. Banyak dari mereka mengatakan bahwa mata kuliah ini penting untuk tetap dilaksanakan. Inez Ardelia, mahasiswa AB mengungkapkan agar tetap perlu diadakan karena berpengaruh pada perkuliahan. “SE perlu ada, soalnya itu mata kuliah wajib, jadi kalau ga terpenuhi bakalan berpengaruh sama besok waktu sidang skripsi,”ujarnya.
Meski begitu, ada pula mahasiswa yang merasa peniadaan SE bukan masalah besar. Menurut Fatimah Aliya dan Mutya Happy, SE memang dapat menambah pengalaman, tetapi pada prakteknya bisa diganti dengan sarana penunjang yang lain. "Sebenarnya bisa diganti dengan magang mandiri,”kata Aliya, mahasiswa Ilkom angkatan 22. Sementara Mutya dari jurusan Humas berpikir SE bisa digantikan dengan tugas yang relatif lebih ringan daripada kegiatan sebelumnya.
Beberapa mahasiswa mengusulkan alternatif jika SE benar-benar akan dihapuskan dari kurikulum. Usulan tersebut diantaranya seminar atau workshop berbasis konsentrasi mahasiswa, bootcamp untuk meningkatkan keterampilan, hingga magang yang lebih difasilitasi oleh kampus. “Kampus bisa membuka beasiswa, atau mengadakan kegiatan yang sifatnya magang ke perusahaan, instansi, maupun pemerintah supaya kita lebih tahu kegiatan lapangan di lembaga tertentu,” usul Athala Bachtiar, mahasiswa Humas angkatan 22.
Terkait aksi protes, beberapa mahasiswa mengaku pasrah, namun ada juga yang berharap ada wadah untuk menyampaikan pendapat. “Kalau ada tempat untuk bersuara, ingin ikut serta,” kata Aristawati Maulida, mahasiswa Ilkom angkatan 22. Berbeda dengan Arista, Thalitha Daffa mengatakan sudah disediakan tempat untuk menyuarakan protes bagi mahasiswa. “Sebenarnya sudah ada ya bentuk menyuarakan isu ini, yang dibantu dari pihak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FISIP sebagai wadah bentuk protes,”ungkapnya.
Pendapat lain juga dikemukakan berkaitan dengan anggaran yang menjadi kendala berjalannya SE. “Hanya ingin berpendapat, kalau dana SE adalah dari UKT mahasiswa ya sebaiknya diusahakan karena kami (mahasiswa) juga membayar UKT di setiap semesternya,” pungkas Ryan Aulianisa, mahasiswa Ilkom angkatan 2022. Dengan berbagai respons ini, mahasiswa FISIP berharap pihak kampus dapat memberikan kejelasan terkait masa depan SE, apakah akan benar-benar ditiadakan atau diganti dengan program lain yang relevan. (Fadhilatul Dewi Anggraeni, Sahasika Tia Fidela Shani Sudibyo, Sahaya Kinantan)
Editor: Romadhon, Pelangi Aulia, Erlysta Nafa
Tulis Komentarmu