Header Ads

Efisiensi Ubah Sistem UTS, Mahasiswa Kritisi Peralihan Mendadak

 


Ilustrasi Pembelajaran di Kelas (Sumber: pixels.com/cottonbrostudio)



Yogyakarta; Sikap – Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) mengubah sistem Ujian Tengah Semester (UTS) sebagai upaya menyesuaikan kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan sejak Februari 2025. Menurut Surat Edaran Nomor 10/UN62/KM.00/2025, penyesuaian ini mencakup perubahan format ujian dari semula berbasis cetak menjadi tugas take home, presentasi, ujian tulis, ujian kertas, unjuk kerja, dan sebagainya tergantung dosen mata kuliah. Kebijakan tersebut diterapkan untuk memangkas biaya operasional universitas, yang dinilai perlu guna menjaga keberlangsungan berbagai program akademik dan non-akademik.

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPNVY, Muh. Edy Susilo, menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi ini merupakan bagian dari program pemerintah yang mengurangi anggaran dari berbagai instansi, termasuk perguruan tinggi. “Perguruan tinggi termasuk UPN terkena pemotongan ini. Untuk UTS, sebelumnya beberapa perguruan tinggi atau bahkan di UPN sendiri, pelaksanaannya dilakukan oleh dosen masing-masing. Bedanya, sekarang mahasiswa tidak perlu datang ke kampus untuk tanda tangan KRP (Kartu Rencana Pendidikan),” jelasnya pada Kamis (20/03/2025).

Edy mengungkapkan bahwa pemotongan anggaran hingga puluhan persen berdampak besar bagi dosen, birokrasi, dan mahasiswa. “Anggaran ATK dipangkas hingga 90%, sementara anggaran penelitian dosen dan kegiatan kompetisi juga terkena dampak,” ujarnya. Namun, setelah adanya rekomposisi oleh rektor, kegiatan kemahasiswaan yang semula ditiadakan dapat dipulihkan kembali.

Mahasiswa turut mengkritisi perubahan sistem UTS ini. Avansa Muhammad Ramadhan dan Theodora Calista Nadia Waseso, menyatakan bahwa sistem baru tersebut merugikan mahasiswa. “Tugas lisan kurang objektif, sementara tugas take home rawan kecurangan. Ini mengurangi fleksibilitas dan menghambat kemampuan kritis mahasiswa,” ujar Avansa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2024. Sementara Theodora mahasiswa Hubungan Internasional 2024, berpendapat bahwa perubahan mendadak pada RPS dan kontrak belajar serta jadwal UTS yang menumpuk dalam satu hari juga memberatkan mahasiswa.

Selaras dengan Theodora, Allensya Great Haq, mahasiswa Hubungan Masyarakat angkatan 2024, juga mengeluhkan ketidakjelasan jadwal ujian. “Dulu, jadwal ujian sudah ditentukan oleh kampus. Sekarang, kami harus menyesuaikan dengan jadwal dosen, sehingga sulit diprediksi dan harus bersiap dari awal,” katanya. Meskipun menuai kritik, beberapa mahasiswa mengaku tugas pengganti UTS masih relevan dengan mata kuliah yang dijalani. Hal ini disampaikan Danang Eky Pratama, mahasiswa Administrasi Bisnis angkatan 24, “Meskipun tugas pengganti UTS seperti take home, pembuatan video, dan pengerjaan soal terasa berat, secara keseluruhan masih relevan dengan mata kuliah yang saya jalani.”


Perubahan sistem UTS  memunculkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan di UPNVY. Avansa dan Theodora berharap ada evaluasi menyeluruh dari pihak kampus untuk memastikan bahwa kebijakan ini tidak merugikan proses belajar dan hasil belajar mahasiswa. Sementara itu, Edy Susilo menegaskan bahwa rekomposisi anggaran dan penyesuaian kebijakan akan terus dilakukan untuk memastikan keberlangsungan pendidikan yang berkualitas. (Putri Armi Kartini)


Editor : Pelangi Aulia

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.